Jumat, 20 Desember 2013

Pemberdayaan Masyarakat



PEMANFAATAN LAHAN KOSONG UNTUK PENGHIJAUAN DAN PENINGKATAN PEREKONOMIAN MASYARAKAT
Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Antropologi Terapan

Dosen Pengampu:
Dr. Moh. Solehatul Mustofa, M. A.
(NIP. 196308021988031001)


Oleh:
Mustofa Hasan
(3401412185)



PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SOSIOLOGI DAN ANTROPOLOGI
JURUSAN SOSIOLOGI DAN ANTROPOLOGI
FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2013
BAB 1
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Sebagian besar penduduk Indonesia bekerja di sektor pertanian termasuk peternakan dan perikanan. Sistem bercocok tanam yang digunakan memerlukan lahan yang luas. Dahulu petani hidup berpindah-pindah tempat untuk mencari lahan baru untuk bercocok tanam, namun kini para petani menetap karena sudah adanya teknologi maju yang dapat menyuburkan tanah seperti pupuk. Cara bercocok tanam dahulu hanya mengandalkan air hujan, kini petani sudah dapat menggunakan sumur atau memanfaatkan air sungai untuk mengairi lahan mereka.
Semua usaha pertanian pada dasarnya adalah kegiatan ekonomi sehingga memerlukan dasar-dasar pengetahuan yang sama akan pengelolaan tempat usaha, pemilihan benih atau bibit, metode budidaya, pengumpulan hasil, distribusi produk, pengolahan dan pengemasan produk, dan pemasaran.
Tidak semua masyarakat memiliki lahan pekarangan rumah yang luas karena penduduk di desa maupun di kota sama-sama padatnya. Dalam kekurangan lahan ini, tentunya akan sulit jika ingin menanam beberapa jenis sayuran atau tanaman lainnya untuk meningkatkan perekonomian dan menciptakan hunian hijau. Dengan demikian disini akan dibahas masalah-masalah lahan sempit dan pemanfaatan lahan sempit ini menjadi lahan pertanian kecil khususnya sayuran untuk meningkatkan ekonomi masyarakatnya dan memenuhi kebutuhan hidupnya.

Permasalahan
            Lahan pekarangan sebenarnya dapat dimanfaatkan menjadi taman kecil atau media bercocok tanam sayur-sayuran yang dalam penanamannya tidak membutuhkan lahan luas dan tetap terlihat asri. Masyarakat di daerah saya memiliki banyak lahan kosong yang dibirkan begitu saja tanpa ditananmi tanaman. Meskipun ditanami, itupun hanya pohon pisang dang singkong yang kurang memberikan manfaat khusunya untuk meningkatkan perekonomian masyarakat. Padahal lahan kosong tersebut dapat dimanfaatkan untuk media pertanian yang dapat meningkatkan perekonomian masyarakat tersebut. Selain meningkatkan perekonomian hal ini juga akan memberikan dampak terhadap bertambahnya ruang hijau di lingkungan masyarakat sehingga akan menjadikan suasana ligkungan yang asri. Berdasarkan hal tersebut maka diambil permasalahan bagaimana cara peningkatan pendapatan dengan pemanfaatan lahan kosong milik masyarakat?
Tujuan
Tujuan dari tulisan ini adalah menjawab permasalahan yang telah dikemukakan sebelumnya yaitu, cara peningkatan pendapatan dengan pemanfaatan lahan kosong milik masyarakat?














BAB II
PEMBAHASAN
Masyarakat agraris
Masyarakat agraris adalah masyarakat yang menggantungkan kehidupannya dengan bercocok tanam baik di sawah dan di perkebunan. Kehidupan masyarakat ini masih jauh dari moderenisasi dengan kata lain mereka hidup sederhana secara tradisional. Adapun kebudayaan yang ada bersifat gotong-royong yang diidentik dengan adat istiadat pedesaan.
Mereka berkembang sangat lamban karena teknologi dan informasi masih minim serta pengetahuan dan skill yang terbatas. Hal itu menyebabkan mereka hidup dalam kesederhanaan. Namun ada juga masyarakat agraris yang hidup berkecukupan karena berbagai faktor seperti kekuasaan, berilmu pengetahuan dan teknologi serta informasi yang memadai. Penduduk desa juga terlibat dalam pekerjaan  di luar sektor pertanian, seperti menjadi tukang ojek, tukang becak, berdagang, atau bekerja di bidang industri.

Perubahan terencana
Prubahan terencana (Planned change) adalah perubahan yang dirancang dan diimplementasikan secara berurutan dan tepat waktu sebagai antisipasi dari peristiwa di masa mendatang. Perubahan reaktif (reactif change) adalah suatu respons bertahap terhadap peristiwa ketika muncul. Karena perubahan reaktif mungkin dilakukan secara cepat, potensi untuk terjadinya perubahan yang disusun dan dilaksanakan dengan buruk meningkat. Perubahan terencana hampir selalu lebih disukai daripada perubahan reaktif.

Budidaya tanaman polybag meningkatkan ekonomi masyarakat
            Tidak semua warga memiliki tanah yang luas untuk bisa dijadikan lahan pertanian, sehingga diperlukan gagasan untuk mewujudkan komitmen bersama dalam mengelola pekarangan yang terbatas serta meningkatkan perekonomian warga. Bermula dari alasan itu, tercetuslah sistem penanaman dengan polybag, berupa kemasan plastik yang berfungsi seperti pot yang berkomposisi tanah dan pupuk dengan perbandingan 1:1. Bahkan, bila mulanya tiap warga hanya mengembangkan lima polybag, berangsur-angsur jumlah tersebut bertambah menjadi sepuluh bahkan lebih hingga memenuhi pekarangan rumah. Kini jerih payah sudah dapat dinikmati. Setidaknya ibu-ibu setempat mampu menghemat sekitar Rp 15.000 tiap harinya.
Nominal tersebut akumulasi belanja sayuran dan transportasi. Keuntungan lainnya adalah media alternatif selain polybag adalah dapat memanfaatkan barang-barang bekas yang sering kita jumpai seperti karung goni, kaleng, sampah kemasan plastik, dan batok kelapa menjadi wadah-wadah pengembangan tanaman. Untuk pupuknya dapat menggunakan pupuk kandang yang berasal dari ternak mereka.
            Media yang dapat digunakan sebagai pot selait polybag yaitu batok kelapa, kaleng dan tong yaitu dengan melubangi sebagian dari batok kelapa, kaleng dan tong tersebut sebagai jalan air agar air tidak menggenang di dalam sehingga akar dari tanaman tidak membusuk, kemudian diisi dengan tanah dan pupuk untuk media penanaman bibit tanaman yang kecil-kecil.
            Dengan demikian perancangan perubahan ini dapat bermanfaat bagi ekonomi masyarakat selain mengandalkan dari sektor perdagangan dan bekerja di industri. Dengan memanfaatkan lahan yang ada dipekarangan baik luas ataupun sempit ini maka perekonomian akan sedikit meningkat karena bertambahnya sumber pendapatan. Selain mudah cara mengelolanya  jarak yang dekat dengan rumahpun memudahkan dalam merawatnya. Jika tidak mau dijual hasinya dapat juga dikonsumsi secara pribadi sehingga menghemat kaum wanita untuk belanja sayur di pasar

Pola Tanam Tumpangsari
            Pola tanam tumpangsari adalah menanam dua jenis tanaman berbeda di satu lahan. Jenis tanaman yang biasa di tumpang sari adalah jagung dengan kacang tanah. Dengan pola tanam tumpangsari masyarakat akan mendapatkan dua kali lipat hasil panen karena dapat memanen dari dua jenis tanaman yang berbeda. Selain itu pemberian pupuk pun menjadi lebih efisien. Jadi selain mendapatkan hasil panen dari tanaman pokok seperti jagung, masyarakat masih dapat memanen dari tanaman lainnya seperti kacang tanah






BAB III
PENUTUP

Kesimpulan

            Tidak semua warga memiliki lahan yang luas dan dimanfaatkan untuk media pertanian yang dapat meningkatkan perekonomian mereka. Perubahan pertanian dapat dilakukan dengan tanaman polybag yang ditanam di lahan sempit atau pekarangan rumah. Selain itu pola tanam tumpangsari juga akan memberikan pendapatan dua kali lipat dari hasil panen dari dua tanaman yang berbeda. Hal ini dapat meningkatkan perekonomian masyarakat dan juga menciptakan ruang hijau disekitar hunian

Tidak ada komentar:

Posting Komentar